Beranda · Santo

Diperbarui: 18 Oktober 2026

Pewarta

Santo Lukas

Pesta: 18 Oktober

Santo Lukas, lukisan El Greco dari seri para rasul di Katedral Toledo
Santo Lukas, lukisan El Greco dari seri para rasul di Katedral Toledo

Santo Lukas adalah tabib dari Antiokhia, rekan setia Rasul Paulus dalam perjalanan misi, dan penulis Injil ketiga serta Kisah Para Rasul. Ia adalah satu-satunya penulis Perjanjian Baru yang bukan orang Yahudi. Gereja menghormatinya sebagai Penginjil, pelindung para dokter dan seniman, dengan pesta setiap 18 Oktober.

Tabib dari Antiokhia

Paulus menyebutnya “Lukas, tabib yang kekasih” (Kol 4:14). Menurut sejarawan Gereja Eusebius, Lukas lahir di Antiokhia dan adalah seorang non-Yahudi. Bukti tekstualnya: dalam Kol 4:10-11 Paulus menyebut lebih dulu “mereka yang dari golongan bersunat” tanpa memasukkan Lukas di dalamnya.

Apakah Lukas benar seorang tabib? Pertanyaan ini diperdebatkan sarjana selama lebih dari seabad. Pada 1882, W. K. Hobart mengumpulkan sekitar 400 istilah dalam Lukas-Kisah Para Rasul yang identik dengan pemakaian para tabib kuno seperti Hipokrates dan Galen. Argumen ini lalu disanggah Henry J. Cadbury dari Harvard Divinity School, yang menunjukkan bahwa kata-kata itu juga muncul pada penulis non-tabib seperti Yosefus dan Plutarkh. Perdebatan ini hidup kembali pada 2025 lewat makalah Luuk van de Weghe di Tyndale Bulletin (Cambridge) yang menilai sanggahan Cadbury layak dipertimbangkan ulang.

Terlepas dari perdebatan akademik, tradisi Gereja yang berakar pada kesaksian Paulus sendiri tetap menyebut Lukas sebagai tabib.

Rekan seperjalanan Paulus

Bukti terkuat kedekatan Lukas dengan Paulus ada di dalam Kisah Para Rasul sendiri. Sampai pasal 16 narasi ditulis dalam orang ketiga, tetapi setelah penglihatan Paulus tentang orang Makedonia, tiba-tiba beralih ke orang pertama jamak: “Segera kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia” (Kis 16:9-10). Bagian-bagian “kami” ini (Kis 16:10-17; 20:5-15; 21:1-18; 27:1-28:16) menunjukkan penulisnya hadir langsung dalam peristiwa itu.

Lukas mendampingi Paulus sejak tahun 51 ke Samotrake, Neapolis, dan Filipi, lalu bergabung lagi dalam perjalanan ke Miletus, Troas, Kaisarea, dan Yerusalem. Ia tetap di sisi Paulus saat dipenjara di Roma sekitar tahun 61. Dari penjara itulah Paulus menulis kepada Timotius: “hanya Lukas yang tinggal dengan aku” (2 Tim 4:11).

Sudah pada akhir abad kedua, Ireneus dari Lyon mengidentifikasi penulis Kisah Para Rasul sebagai Lukas rekan Paulus dengan mengutip bagian “kami” ini. Sarjana modern seperti Joseph Fitzmyer (Yale University Press, 1998) dan Martin Hengel (1979) mendukung penafsiran yang sama.

Dua karya untuk Teofilus

Injil Lukas dan Kisah Para Rasul membentuk satu karya dua jilid, keduanya ditujukan kepada Teofilus (Luk 1:3; Kis 1:1). Jilid pertama mengisahkan kehidupan, wafat, dan kebangkitan Yesus; jilid kedua mengisahkan lahirnya Gereja dari Yerusalem hingga ke Roma.

Penginjil belas kasih

Ciri khas Injil Lukas adalah perhatiannya pada kaum miskin, korban ketidakadilan, perempuan, dan orang berdosa yang bertobat. Perumpamaan Orang Samaria yang Baik dan Anak yang Hilang hanya ada di Injilnya. Hanya Lukas yang mencatat kisah Lazarus dan orang kaya, perempuan berdosa yang membasuh kaki Yesus dengan air matanya, dan kidung Magnificat: Allah “menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah” (Luk 1:52-53).

Kepekaan Lukas pada pewartaan bagi bangsa-bangsa lain juga tampak jelas: ia mencatat penghargaan Yesus pada iman janda di Sarfat, Naaman orang Siria, dan orang Samaria yang kusta, satu-satunya dari sepuluh orang kusta yang kembali bersyukur.

Di sisi Maria

Berkat Lukas kita mengenal kabar Malaikat kepada Maria, kunjungannya kepada Elisabet, detail persembahan Yesus di Bait Allah, dan kecemasan Maria dan Yusuf saat Yesus yang berusia 12 tahun hilang di Yerusalem.

Menurut tradisi, Lukas adalah pelukis pertama Bunda Maria. Vatican News membingkainya dengan jujur sebagai tradisi ikonografis: sangat mungkin berkat kepekaan naratif Lukas inilah tradisi itu lahir. Ini perlu dicatat sebagai tradisi, bukan fakta historis yang pasti.

Simbol anak lembu, pelindung dokter dan seniman

Dalam ikonografi Kristen, Lukas dilambangkan dengan anak lembu bersayap. Ireneus mengaitkan Lukas dengan citra anak lembu dari penglihatan Yehezkiel, yang melambangkan tatanan kurban dan imamat Kristus. Injil Lukas memang dibuka dengan pelayanan imamat Zakharia di Bait Allah.

Gereja menghormati Lukas sebagai pelindung para dokter, sesuai profesinya, dan para seniman, sesuai tradisi tentang lukisan Bunda Maria.

Akhir hidup dan relikwi

Detail kematian Lukas tidak pasti. Beberapa sumber menyebut kemartirannya, sementara yang lain mengatakan ia hidup sampai usia tua. Tradisi tertua mengatakan ia wafat di Boeotia (Thebes, Yunani) pada usia 84 tahun.

Relikwinya kini berada di Biara Santa Giustina di Padua, Italia. Satu tulang rusuk dikirim kembali ke makam aslinya di Thebes, dan tengkoraknya disimpan di Katedral St. Vitus di Praha.

Menariknya, sebuah studi genetik yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences pada 2001, oleh tim dari Universitas Ferrara, Firenze, Jenewa, Roma Tor Vergata, Calabria, dan Padua yang dipimpin Guido Barbujani, menganalisis DNA mitokondria dari kerangka di Padua. Hasilnya konsisten dengan asal Suriah, tempat Antiokhia berada, dan penanggalan radiokarbon menempatkan wafatnya antara tahun 72 dan 416. Studi ini tidak membuktikan identitas pasti, tetapi datanya selaras dengan tradisi Gereja.

Teladan Santo Lukas

Kisah Lukas bukan sekadar catatan sejarah. Ada tiga hal yang bisa kita teladani darinya.

Kesetiaan yang tidak pergi. Ketika Paulus dipenjara di Roma dan banyak orang meninggalkannya, Lukas tetap tinggal. “Hanya Lukas yang tinggal bersamaku,” tulis Paulus (2 Tim 4:11). Lukas mengajarkan kesetiaan yang bertahan, bukan hanya di saat mudah, tetapi juga di saat sulit. Kita pun dipanggil setia mendampingi keluarga, sahabat, dan komunitas kita sampai akhir.

Iman yang berpikir jernih. Lukas menyelidiki segala sesuatu dengan saksama sebelum menulis (Luk 1:3). Ia menunjukkan bahwa iman tidak bertentangan dengan akal budi. Umat Katolik diajak mengenal imannya dengan sungguh-sungguh, mempelajarinya, dan mempertanggungjawabkannya dengan jujur.

Hati untuk yang tersisih. Injil Lukas memberi tempat istimewa bagi orang miskin, para pendosa yang bertobat, perempuan, dan orang asing. Sebagai tabib, Lukas merawat tubuh; sebagai penginjil, ia merawat jiwa. Pekerjaan sehari-hari kita pun, apa pun itu, bisa menjadi jalan merawat sesama dan memuliakan Allah.

Pertanyaan yang sering diajukan

Siapa Santo Lukas?

Ia adalah tabib dari Antiokhia, rekan seperjalanan Rasul Paulus, dan penulis Injil ketiga serta Kisah Para Rasul. Ia satu-satunya penulis Perjanjian Baru yang bukan orang Yahudi.

Mengapa Lukas disebut Penginjil belas kasih?

Karena Injilnya menonjolkan perhatian Yesus pada kaum miskin, perempuan, dan orang berdosa yang bertobat. Perumpamaan Anak yang Hilang dan Orang Samaria yang Baik hanya ada di Injil Lukas.

Benarkah Lukas seorang dokter?

Paulus menyebutnya “tabib yang kekasih” (Kol 4:14) dan tradisi Gereja mempertahankannya. Di kalangan sarjana ada perdebatan: argumen bahasa medis (Hobart, 1882) disanggah Cadbury (Harvard), lalu ditinjau ulang dalam penelitian 2025 (Tyndale Bulletin, Cambridge).

Apakah Lukas benar melukis Bunda Maria?

Itu adalah tradisi Gereja, bukan fakta historis yang pasti. Vatican News menyajikannya sebagai tradisi ikonografis yang mungkin lahir dari kepekaan naratif Lukas dalam mengisahkan Maria.

Kapan pesta Santo Lukas dirayakan?

Setiap 18 Oktober. Surat Paus Benediktus XVI kepada para seminaris pada 2010 pun bertepatan dengan tanggal pesta ini, 18 Oktober 2010.

Referensi

  1. Vatican News, “St. Luke, Evangelist, Physician, Patron of Artists”. https://www.vaticannews.va/en/saints/10/18/st—luke—evangelist—physician---patron-of—artists.html
  2. Paus Benediktus XVI, Surat kepada Para Seminaris, 18 Oktober 2010 (Pesta St. Lukas Penginjil). https://w2.vatican.va/content/benedict-xvi/en/letters/2010/documents/hf_ben-xvi_let_20101018_seminaristi.html
  3. Luuk van de Weghe, “Luke the Physician: Some Notes on the Internal Evidence,” Tyndale Bulletin 76 (2025): 31-45. https://doi.org/10.53751/001c.133200
  4. Henry J. Cadbury, The Style and Literary Method of Luke (Cambridge: Harvard University Press, 1920).
  5. Joseph A. Fitzmyer, The Acts of the Apostles, Anchor Bible 31 (New York: Doubleday, 1998).
  6. Cristiano Vernesi dkk., “Genetic characterization of the body attributed to the evangelist Luke,” Proceedings of the National Academy of Sciences 98(23) (2001): 13460-13463. https://www.pnas.org/doi/full/10.1073/pnas.211540498
  7. Ireneus dari Lyon, Adversus Haereses III.11.8 dan III.14.1.
  8. Kol 4:14; 2 Tim 4:11; Luk 1:3; Kis 1:1; Kis 16:9-10.