Rasul
Santo Petrus
Pesta: 29 Juni
Santo Petrus, yang bernama asli Simon, adalah rasul pertama dan pemimpin kedua belas rasul, yang oleh Gereja Katolik dihormati sebagai Paus pertama. Yesus sendiri memberinya nama baru Kefas, dalam bahasa Yunani Petros, yang berarti batu karang, dan mempercayakan kepadanya kunci Kerajaan Surga. Sesudah menyangkal Yesus tiga kali dan bertobat, ia memimpin Gereja perdana dari Yerusalem sampai Roma, tempat ia wafat sebagai martir pada masa Kaisar Nero. Pesta utamanya dirayakan sebagai Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus setiap 29 Juni, dan ia juga diperingati pada Pesta Takhta Santo Petrus, 22 Februari.
Nelayan dari Betsaida
Simon adalah putra Yonas, berasal dari Betsaida di tepi Danau Galilea, dan bekerja sebagai nelayan bersama saudaranya, Andreas, dalam usaha perikanan keluarga Zebedeus di Danau Genesaret. Ia sudah menikah; mertuanya perempuan tinggal bersamanya di Kapernaum dan pernah disembuhkan Yesus dari demam. Dalam katekesenya tentang Santo Petrus, Paus Benediktus XVI mencatat betapa menonjol sosok ini dalam Perjanjian Baru: nama Petrus disebut 154 kali, terbanyak di antara para rasul.
Ketaatannya sebagai orang Yahudi yang saleh membawanya lebih dulu mengikuti pewartaan Yohanes Pembaptis di Yudea, sebelum Andreas, saudaranya, memperkenalkannya kepada Yesus.
“Engkau Akan Disebut Kefas”
Pada perjumpaan pertama mereka, Yesus menatap Simon dan bersabda: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan disebut Kefas (artinya: Petrus)” (Yoh 1:42). Dalam tradisi Perjanjian Lama, pergantian nama menandai penyerahan sebuah perutusan. Di danau Galilea, Simon meninggalkan jalanya dan mengikut Yesus, dan sejak itu ia hampir selalu tampil sebagai juru bicara para rasul.
Puncaknya terjadi di Kaisarea Filipi. Menjawab pertanyaan Yesus tentang siapa diri-Nya, Simon mengaku: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Yesus membalasnya dengan janji yang menjadi dasar perutusan Petrus: “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku… Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga” (Mat 16:18-19). Kepadanya pula Yesus berpesan menjelang sengsara-Nya: “Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu” (Luk 22:32).
Penyangkalan dan Pemulihan
Menjelang penyaliban, Petrus yang bersumpah setia justru menyangkal Yesus tiga kali, lalu menangis dengan amat sedihnya ketika menyadari perbuatannya. Kegagalan itu tidak mengakhiri perutusannya. Ia termasuk saksi pertama kubur kosong dan penampakan Tuhan yang bangkit; Paulus mencatat bahwa Kristus menampakkan diri kepada Kefas lebih dulu sebelum kepada kedua belas rasul (1 Kor 15:5).
Di tepi Danau Tiberias, Tuhan yang bangkit memulihkannya secara terbuka. Tiga kali Yesus bertanya, “Apakah engkau mengasihi Aku?”, dan tiga kali pula Ia menyerahkan kawanan-Nya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku” (Yoh 21:15-17). Pada kesempatan yang sama Yesus menubuatkan kematiannya kelak sebagai martir, ketika ia direntangkan tangannya dan dibawa ke tempat yang tidak dikehendakinya.
Pemimpin Gereja Perdana
Pada hari Pentakosta, Petrus berdiri dan berkhotbah di hadapan orang banyak Yerusalem; sekitar tiga ribu orang dibaptis hari itu (Kis 2). Ia memimpin jemaat perdana, menyembuhkan orang lumpuh di Gerbang Indah, dan menghadapi Sanhedrin dengan keberanian yang berlawanan dengan ketakutannya dulu.
Dua keputusannya membentuk masa depan Gereja. Lewat penglihatan di Yope dan perjumpaannya dengan perwira Romawi Kornelius di Kaisarea, ia membaptis orang bukan Yahudi pertama dan membuka pintu Gereja bagi segala bangsa (Kis 10). Pada Konsili Yerusalem sekitar tahun 49, suaranya menentukan bahwa bangsa-bangsa lain tidak dibebani hukum Taurat (Kis 15). Di Antiokhia ia sempat ditegur Paulus karena sikapnya yang goyah dalam pergaulan dengan orang Kristen bukan Yahudi (Gal 2:11-14), episode yang justru menunjukkan Gereja perdana menyelesaikan ketegangannya secara terbuka. Tradisi Gereja mencatatnya sebagai penulis dua surat dalam Perjanjian Baru, Surat Petrus yang Pertama dan yang Kedua.
Martir di Roma
Menurut tradisi Gereja yang kokoh, Petrus mengakhiri hidupnya di Roma pada masa penganiayaan Kaisar Nero, sekitar tahun 64 sampai 67. Sejarawan Gereja Eusebius, mengutip Origenes, menulis bahwa Petrus disalibkan dengan kepala di bawah atas permintaannya sendiri, karena ia merasa tidak layak disalibkan seperti Tuhannya.
Kisah terkenal bahwa Petrus yang hendak melarikan diri dari Roma berbalik arah sesudah bertemu Yesus yang berjalan masuk kota, lalu bertanya “Quo vadis, Domine?” (Tuhan, mau ke mana?), berasal dari Kisah Petrus, tulisan apokrif abad ke-2, dan harus dibaca sebagai legenda. Yang bersejarah adalah kemartirannya di Roma dan pemakamannya di Bukit Vatikan.
Makam di Bawah Basilika Santo Petrus
Petrus dimakamkan di pekuburan di Bukit Vatikan, dan sejak abad ke-2 umat Kristen menghormati makamnya di tempat itu. Basilika Santo Petrus kini berdiri tepat di atasnya. Pada abad ke-20, atas perintah Paus Pius XII, dilakukan penggalian arkeologi di bawah basilika yang menemukan nekropolis kuno dan sebuah monumen makam dari abad ke-2 di tempat yang ditunjuk tradisi. Pada 26 Juni 1968, Paus Paulus VI mengumumkan bahwa relikwi Santo Petrus telah teridentifikasi dengan cara yang oleh Gereja dinilai meyakinkan.
Dua Pesta Santo Petrus
Pesta utama Santo Petrus adalah Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus pada 29 Juni, tanggal yang sejak abad ke-3 dikaitkan dengan kedua rasul kota Roma itu. Selain itu, pada 22 Februari Gereja merayakan Pesta Takhta Santo Petrus, yang memperingati perutusan Petrus dan para penerusnya sebagai gembala Gereja; makna kata takhta atau cathedra ini dijelaskan dalam entri glosarium Cathedra.
Teladan Santo Petrus
Jatuh bukan akhir. Ia menyangkal Tuhannya tiga kali pada malam yang sama dengan sumpah kesetiaannya, tetapi tangis pertobatannya dan tiga kali pengakuan kasih di tepi danau memulihkannya menjadi gembala. Gereja tidak dipimpin oleh orang yang tidak pernah gagal, melainkan oleh orang yang bangkit kembali.
Iman yang diucapkan dengan berani. Pengakuannya di Kaisarea Filipi adalah pengakuan iman pertama para rasul tentang siapa Yesus. Perutusannya menguatkan saudara-saudaranya berakar dari pengakuan itu, bukan dari kesempurnaan dirinya.
Tanya Jawab
Siapa Santo Petrus?
Ia adalah rasul pertama, bernama asli Simon, nelayan dari Betsaida yang dipanggil Yesus dan diberi nama Petrus, artinya batu karang. Ia memimpin Gereja perdana dan dihormati sebagai Paus pertama.
Mengapa Santo Petrus disebut Paus pertama?
Karena Yesus mempercayakan kepadanya perutusan khusus sebagai batu karang Gereja dan pemegang kunci Kerajaan Surga (Mat 16:18-19), lalu mengangkatnya menjadi gembala kawanan-Nya (Yoh 21:15-17). Para Uskup Roma adalah penerusnya dalam perutusan itu.
Kapan pesta Santo Petrus dirayakan?
Dua kali. Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus setiap 29 Juni, dan Pesta Takhta Santo Petrus setiap 22 Februari.
Benarkah Santo Petrus disalibkan terbalik?
Itu tradisi Gereja yang sangat tua. Eusebius dari Kaisarea, mengutip Origenes dari abad ke-3, menulis Petrus disalibkan dengan kepala di bawah atas permintaannya sendiri pada masa Kaisar Nero di Roma.
Di mana makam Santo Petrus?
Di bawah altar utama Basilika Santo Petrus di Vatikan. Penggalian abad ke-20 menemukan nekropolis dan monumen makam abad ke-2 di sana, dan pada 1968 Paus Paulus VI mengumumkan relikwinya telah teridentifikasi secara meyakinkan.
Referensi
- Kitab Suci: Mat 16:13-19 (pengakuan iman dan kunci Kerajaan), Yoh 1:42 (nama Kefas), Yoh 21:15-19 (gembalakanlah domba-Ku), Kis 2; 10; 15 (Pentakosta, Kornelius, Konsili Yerusalem).
- Benediktus XVI, Katekese tentang Santo Petrus, Audiensi Umum 17 Mei 2006, 24 Mei 2006 (“Petrus, Sang Rasul”), dan 7 Juni 2006, vatican.va: riwayat Simon nelayan, pergantian nama, dan perutusan Petrus sebagai penjaga persekutuan Gereja.
- Katekismus Gereja Katolik, no. 552-553 (Petrus sebagai batu karang dan pemegang kunci) dan no. 880-881 (perutusan Petrus dan para penerusnya).
- Martyrologium Romanum, edisi 2004 (Libreria Editrice Vaticana), entri 29 Juni (Hari Raya Santo Petrus dan Paulus) dan 22 Februari (Takhta Santo Petrus).
- Eusebius dari Kaisarea, Historia Ecclesiastica III.1, mengutip Origenes: kemartiran Petrus di Roma dengan penyaliban kepala di bawah.