Beranda · Santo

Diperbarui: 18 Oktober 2026

Pewarta

Santo Fransiskus Asisi

Pesta: 4 Oktober

Santo Fransiskus dari Asisi menerima stigmata, Lukisan Giotto di Bondone, sekitar 1295-1300, Museum Louvre, Paris.
Santo Fransiskus dari Asisi menerima stigmata, Lukisan Giotto di Bondone, sekitar 1295-1300, Museum Louvre, Paris.

Selama lebih dari 800 tahun, Santo Fransiskus dari Asisi menjadi mercusuar bagi Gereja melalui kesaksiannya akan Injil, sehingga ia dijuluki alter Christus, “Kristus yang lain”, ikon Kristus yang hidup karena pilihannya hidup dalam kemiskinan demi menjumpai Tuhan (Vatican News). Paus Benediktus XVI menyebutnya “raksasa kekudusan” (Audiensi Umum, 27 Januari 2010).

Masa Muda dan Pertobatan

Fransiskus lahir di Asisi, Italia, pada akhir 1181 atau awal 1182 (Benediktus XVI; Negara Kota Vatikan mencatat 1182). Nama baptisnya Yohanes; ia kemudian dikenal sebagai Fransiskus. Ayahnya, Pietro di Bernardone, adalah pedagang kain yang kaya, sedangkan ibunya, Pica de Bourlemont, berasal dari Provence, Prancis.

Masa mudanya gemerlap: ia bercita-cita menjadi kesatria dan ikut berperang melawan Perugia dalam Perang Collestrada (1202), di mana ia ditawan selama setahun. Pengalaman penjara, penyakit, dan mimpi-mimpi yang menghantuinya perlahan meruntuhkan ambisinya. Titik baliknya terjadi sekitar 1205-1206: ia mulai melayani orang kusta, berdoa berjam-jam di gereja-gereja tua yang rusak, dan mengalami pertobatan yang radikal.

“Perbaikilah Gereja-Ku”

Di kapel San Damiano yang hampir runtuh, salib Kristus bersabda kepadanya: “Fransiskus, pergilah dan perbaikilah Gereja-Ku.” Semula ia memahaminya secara harfiah dan mulai memungut batu untuk memperbaiki bangunan kapel. Namun panggilan itu jauh lebih dalam: pembaruan Gereja secara rohani.

Pertobatannya mencapai puncak dramatis ketika ia menanggalkan seluruh pakaiannya di hadapan Uskup Guido dari Asisi, mengembalikan harta ayahnya, dan menyatakan bahwa kini ia hanya memiliki satu Bapa, yaitu Bapa di surga. Sejak itu ia hidup sebagai pengemis, bekerja dengan tangannya, dan mewartakan pertobatan dengan kesederhanaan yang memikat.

Ordo Saudara Dina (1209)

Pada 1209, Fransiskus dan sebelas pengikut pertamanya pergi ke Roma. Paus Inosensius III menyetujui Regula, aturan hidup mereka, sehingga lahirlah Ordo Saudara Dina (Ordo Fratrum Minorum, Ordo Fransiskan). Mereka hidup tanpa milik pribadi, mengemis bila perlu, dan berkhotbah dari kota ke kota dengan kegembiraan yang menular.

Klara, Greccio, dan Keluarga Fransiskan

Pada Minggu Palma 1211 (atau 1212), seorang gadis bangsawan Asisi bernama Klara mengikutinya dan menjadi pengikut perempuan pertama, cikal bakal Ordo Santa Klara (Ordo Kedua). Belakangan lahir pula Ordo Ketiga untuk kaum awam yang ingin hidup dalam semangat Fransiskan di tengah dunia.

Pada Natal 1223 di Greccio, Fransiskus mengadakan palungan Natal hidup yang pertama: sebuah gua dengan palungan, jerami, lembu, dan keledai, tempat Misa Natal dirayakan. Tradisi palungan Natal (presepe) yang dikenal umat Katolik hingga hari ini berakar dari peristiwa ini.

Stigmata di La Verna

Menjelang akhir hidupnya, penyerupaan Fransiskus dengan Kristus yang tersalib mencapai puncaknya. Pada 17 September 1224, saat sedang merenungkan sengsara Kristus di Gunung La Verna, ia menerima stigmata: luka-luka Kristus (di tangan, kaki, dan lambung) tercetak di tubuhnya setelah penampakan serafim. Ia adalah penerima stigmata pertama yang tercatat dalam sejarah Gereja. Luka-luka itu ia sembunyikan dan derita dengan diam hingga wafatnya.

Gita Sang Surya

Pada 1225, dalam keadaan hampir buta dan sakit parah, Fransiskus menggubah Gita Sang Surya (Laudes Creaturarum, Kidung Segenap Ciptaan), pujian kepada Tuhan melalui “Saudara Matahari”, “Saudari Bulan”, “Saudara Api”, hingga “Saudari Kematian”. Kidung ini termasuk karya sastra Italia tertua yang masih lestari. Paus Fransiskus mengutip bait pembukanya, “Laudato Si’, mi’ Signore” (“Terpujilah Engkau, Tuhanku”), sebagai judul dan jiwa ensiklik ekologinya, Laudato Si’ (2015).

Wafat dan Kanonisasi

Fransiskus menulis wasiatnya pada Juni 1226. Ia wafat sesudah matahari terbenam pada 3 Oktober 1226, dalam usia sekitar 44 tahun, sambil mendengarkan pembacaan Kisah Sengsara menurut Yohanes. Pestanya dirayakan 4 Oktober.

Hanya dua tahun kemudian, pada 16 Juli 1228, Paus Gregorius IX mengkanonisasinya, disaksikan ibunya. Proses kanonisasinya termasuk yang tersingkat dalam sejarah Gereja, dengan sekitar 40 mukjizat yang diperiksa.

Teladan Santo Fransiskus

Kemiskinan total yang dipilih Fransiskus bukan kemelaratan demi dirinya sendiri, melainkan kebebasan: dengan tidak memiliki apa-apa, ia dapat menjadi saudara bagi semua orang dan seluruh ciptaan. Ia berkhotbah kepada burung-burung, menjinakkan serigala Gubbio menurut legenda, dan menyebut matahari, bulan, air, bahkan kematian sebagai saudara dan saudari.

Paus Fransiskus, dalam Laudato Si’ art. 10, menyatakan: “Aku percaya Santo Fransiskus adalah teladan par excellence dalam merawat yang lemah dan dalam ekologi integral yang dijalani dengan sukacita dan otentik. Ia adalah santo pelindung semua orang yang mempelajari dan berkarya di bidang ekologi.” Tidak mengherankan Paus Fransiskus memilih namanya sebagai nama kepausan: nama itu adalah program, Gereja yang miskin untuk kaum miskin, dan perdamaian bagi segenap ciptaan.

Catatan jujur: Doa Damai yang populer (“Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai”) sering disandarkan kepada Santo Fransiskus, tetapi penelitian sejarawan Christian Renoux (Universitas Orleans, dalam bukunya tahun 2001) menunjukkan doa itu muncul secara anonim di Prancis pada 1912 dan baru dikaitkan dengan Fransiskus sekitar 1925 karena kekeliruan. Temuannya diringkas oleh L’Osservatore Romano, surat kabar resmi Vatikan. Menariknya, Vatikan sendiri pernah ikut mempopulerkan doa ini: pada 1915 teksnya dikirim kepada Paus Benediktus XV, yang memerintahkan terjemahan Italianya dimuat di halaman depan L’Osservatore Romano pada 20 Januari 1916, di tengah Perang Dunia I.

Tanya Jawab

Kapan pesta Santo Fransiskus Asisi? Pestanya dirayakan setiap 4 Oktober. Ia wafat pada 3 Oktober 1226, sesudah matahari terbenam, sehingga perayaannya jatuh keesokan harinya.

Apa itu stigmata yang diterima Santo Fransiskus? Stigmata adalah luka-luka Kristus yang tersalib (di tangan, kaki, dan lambung) yang tercetak secara ajaib di tubuhnya pada 17 September 1224 di Gunung La Verna, setelah penampakan serafim saat ia merenungkan sengsara Kristus. Ia penerima stigmata pertama yang tercatat dalam sejarah Gereja.

Benarkah Doa Damai (“Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai”) karangan Santo Fransiskus? Tidak. Penelitian sejarawan Christian Renoux dari Universitas Orleans (buku tahun 2001, diringkas L’Osservatore Romano) menunjukkan doa itu pertama kali terbit secara anonim di Prancis pada 1912 dan baru disandarkan kepada Santo Fransiskus sekitar 1925 karena kekeliruan. Doa ini tetap indah dan layak didoakan, hanya atribusi pengarangnya yang keliru.

Mengapa Santo Fransiskus disebut “alter Christus”? Vatican News menjelaskan bahwa selama lebih dari 800 tahun kesaksiannya akan Injil, terutama kemiskinan total dan stigmatanya, membuatnya dipandang sebagai “Kristus yang lain”, ikon Kristus yang hidup.

Mengapa Paus Fransiskus memilih nama Fransiskus? Nama kepausannya merujuk pada Santo Fransiskus Asisi: program Gereja yang miskin untuk kaum miskin, perdamaian, dan perawatan bagi segenap ciptaan, sebagaimana ditegaskan dalam ensiklik Laudato Si’.

Referensi

  • Vatican News, “St. Francis of Assisi, Founder of the Franciscan Order, Patron of Italy” (vaticannews.va/en/saints/10/04.html)
  • Paus Benediktus XVI, Audiensi Umum 27 Januari 2010, “Saint Francis of Assisi” (vatican.va)
  • Negara Kota Vatikan, “4 October: Saint Francis of Assisi, Patron Saint of Italy” (vaticanstate.va)
  • Paus Fransiskus, Ensiklik Laudato Si’ (2015), art. 10-12 (vatican.va)
  • Christian Renoux, La priere pour la paix attribuee a saint Francois: une enigme a resoudre (Paris: Editions franciscaines, 2001)